Minggu, 30 Desember 2018

Sepikan Malam Tahun Baru





Tahun baru Masehi saat ini memang dirayakan secara megah dan besar-besaran yang dihiasi dengan suara terompet maupun atraksi kembang api yang cantik di seluruh dunia yang dirayakan semua orang, baik umat muslim. Namun perlu diketahui jika perayaan tersebut identik dengan hari besar yang dirayakan orang Nasrani.

Perayaan ini memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tanpa tahu kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” in Mélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400).

Fakta tersebut menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi.

Perlu diketahui, turut merayakan tahun baru sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,
من تشبه بقوم فهو منهم
Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)
Hal-hal berikut yang dapat merusak keimanan/aqidah seorang muslim jika ikut-ikutan merayakan moment tersebut:  
1.      Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan Ied Haram
Kerusakan yang pertama adalah jika seorang merayakan tahun baru berarti juga merayakan ied atau hari perayaan yang haram hukumnya. Ini bisa terjadi karena hanya ada 2 ied bagi kaum muslim yakni Idul Fitri dan juga Idul Adha.
Anas bin Malik berkata, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fitri dan Idul Adha.’”.

2.      Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh Orang Kafir

Kerusakan yang kedua adalah merayakan tahun baru berarti tasyabbuh atau meniru orang kafir. Nabi Muhammad sedari dulu sudah memperingatkan jika umat ini akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan juga Nasrani dan kaum muslim akan mengikuti mereka baik dari segi berpakaian ataupun dari segi hari raya.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“.
3.      Merekayasa Amalan Tanpa Tuntunan Malam Tahun Baru

Seperti yang kita ketahui jika perayaan tahun baru berasal dari budaya orang kafir dan menjadi tradisi. Akan tetapi, orang jahil mensyariatkan amalan tertentu untuk malam pergantian tahun tersebut. Hal terbaik yang bisa dilakukan umat muslim untuk malam tahun baru sebaiknya diisi dengan dzikir berjamaah di masjid yang lebih bermanfaat. Persyariatan tersebut sungguh aneh sebab sudah melakukan amalan tanpa diikuti dengan tuntunan dan lagi pula ini bukanlah perayaan atau ritual umat muslim.
4.      Terjerumus Pada Haram Saat Mengucapkan Selamat Tahun Baru

Tahun baru merupakan syiar orang kafir dan bukanlah menjadi syiar umat muslim sehingga tidak pantas bagi umat muslim untuk memberi selamat dalam syiar orang kafir berdasarkan dari kesepakatan para ulama.
Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.
5.      Meninggalkan Perkara Wajib

Begadang selama semalam sambil menunggu detik pergantian tahun tentunya akan membuat umat muslim meninggalkan perkara wajib yakni sholat 5 waktu seperti salat subuh. Meninggalkan sholat 5 waktu tersebut bukanlah perkara yang sepele dan bahkan para ulama menyatakan hal tersebut sebagai perkara dosa besar dalam Islam.
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”
6.      Bergadang Tanpa Hajat

Bergadang dalam Islam tanpa diikuti dengan syar’i sangat dibenci oleh Rasulullah SAW termasuk salah satunya adalah merayakan tahun baru sebab tidak memiliki manfaat sama sekali.
Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”
7.      Terjerumus Dalam Zina

Perayaan tahun baru juga tidak lepas dengan ikhtilath atau bercampurnya antara wanita dan laki laki dan juga berkholawat atau berdua duaan dan ini bisa menjerumuskan umat muslim ke dalam zina dalam Islam. Hal inilah yang akan terjadi dalam malam pergantian tahun baru padahal melakukan pandangan, bersentuhan tangan dan bahkan sampai kemaluan adalah perbuatan zina dan menjadi hal yang sangat diharamkan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.
Demikian penjelasan terkait apa saja hukum dan larangan merayakan tahun baru masehi bagi umat islam beserta alasan-alasan yang  menjelaskan mengapa hal itu dilarang. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaatJ





Senin, 24 Desember 2018

Bolehkah Mengucapkan Selamat Natal?




Ucapan Merry Christmass atau Selamat Hari Natal selalu terdengar pada hari raya keagamaan umat Kristen tiba. Natal (dari bahasa Portugis yang berarti ‘kelahiran’) adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.

Bagi penganut agama selain Islam, ucapan Selamat Hari Natal mungkin dianggap sah sebagai salah satu bentuk toleransi antar agama, bentuk rasa saling menghormati sesama warga Negara yang berbeda agama. Namun, ternyata kaidah ini tidak berlaku dalam ajaran agama Islam. Syariat Islam justru melarang umatnya untuk mengucapkan selamat natal kepada umat Kristen saat mereka merayakannya, hukumnya HARAM. Dan ada juga sebagian di antara kaum muslimin, berpendapat nyeleneh sebagaimana pendapatnya orang-orang kafir. Dengan alasan sebagai toleransi dalam beragama!? Toleransi beragama, bukanlah seperti kesabaran yang tidak ada batasnya. Namun toleransi beragama dijunjung tinggi oleh syari’at, asal di dalamnya tidak terdapat penyelisihan syari’at. Bentuk toleransi bisa juga bentuknya adalah membiarkan saja mereka berhari raya tanpa turut serta dalam acara mereka, termasuk tidak perlu ada ucapan selamat.
Alasan Terlarangnya Ucapan Selamat Natal

  • Bukanlah perayaan kaum muslimin
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa perayaan bagi kaum muslimin hanya ada 2, yaitu hari ‘Idul fitri dan hari ‘Idul Adha.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata : Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya kurban (‘Idul Adha) dan hari raya ‘Idul Fitri” (HR. Ahmad, shahih). Sebagai muslim yang ta’at, cukuplah petunjuk Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjadi sebaik-baik petunjuk.
  • Menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal
Ketika mengucapkan selamat atas sesuatu, pada hakekatnya kita memberikan suatu ucapan penghargaan. Misalnya ucapan selamat kepada teman yang telah lulus dari kuliahnya saat di wisuda. Nah, begitu juga dengan seorang yang muslim mengucapkan selamat natal kepada seorang nashrani. Seakan-akan orang yang mengucapkannya, menyematkan kalimat setuju akan kekufuran mereka. Karena mereka menganggap bahwa hari natal adalah hari kelahiran tuhan mereka, yaitu Nabi ‘Isa ‘alaihish shalatu wa sallam. Dan mereka menganggap bahwa Nabi ‘Isa adalah tuhan mereka. Bukankah hal ini adalah kekufuran yang sangat jelas dan nyata? 
Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)
  • Merupakan sikap loyal (wala) yang keliru
Loyal (wala) tidaklah sama dengan berbuat baik (ihsan). Wala memiliki arti loyal, menolong, atau memuliakan orang kita cintai, sehingga apabila kita wala terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut. Oleh karena itu, para kekasih Allah juga disebut dengan wali-wali Allah. Ketika kita mengucapkan selamat natal, hal itu dapat menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar di lisan saja. Padahal seorang muslim diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan orang kafir.
Allah Ta’ala berfirman,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Qs. Al Mumtahanah: 4)
  • Nabi melarang mendahului ucapan salam
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,                                                                        
لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ
Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Ucapan selamat natal termasuk di dalam larangan hadits ini.
  •  Menyerupai orang kafir
Tidak samar lagi, bahwa sebagian kaum muslimin turut berpartisipasi dalam perayaan natal. Lihat saja ketika di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan pusat perbelanjaan. Sebagian dari kaum muslimin ada yang berpakaian dengan pakaian khas perayaan natal. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum  muslimin untuk menyerupai kaum kafir.
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Pembicaraan Kelahiran Isa dalam Al Qur’an

Maka Maryam mengandungnya, lalu ia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.’ Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 22-25)
     Kutipan ayat di atas menunjukkan bahwa Maryam mengandung Nabi ‘Isa ‘alahis salam pada saat kurma sedang berbuah. Dan musim saat kurma berbuah adalah musim panas. Jadi selama ini natal yang diidetikkan dengan musim dingin (winter), adalah suatu hal yang keliru.

      Ketahuilah wahai akhi dan ukhti, perkara yang remeh bisa menjadi perkara yang besar jika kita tidak mengetahuinya. Mengucapkan selamat pada suatu perayaan yang bukan berasal dari Islam saja terlarang (semisal ucapan selamat ulang tahun), bagaimana lagi mengucapkan selamat kepada perayaan orang kafir? Tentu lebih-lebih lagi terlarangnya.
Meskipun ucapan selamat hanyalah sebuah ucapan yang ringan, namun menjadi masalah yang berat dalam hal aqidah. Terlebih lagi, jika ada di antara kaum muslimin yang membantu perayaan natal. Misalnya dengan membantu menyebarkan ucapan selamat hari natal, boleh jadi berupa spanduk, baliho, atau yang lebih parah lagi memakai pakaian khas acara natal (santa klaus, pent.)
Allah Ta’ala telah berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2).
SUMBER:










Rabu, 16 Mei 2018

Marhaban Yaa Ramadhan







Setetes Embun di Pagi hari,
Jatuh di atas Bunga Melati,
Inilah waktunya untuk perbaiki diri,
Di Bulan yang suci ini,
Kami Rohis SMAN 1 Bontang mengucapkan
Selamat menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1439 H
Semoga kita semua bisa diberkahi oleh Bulan yang mahrifah ini..Amiin..

Selasa, 06 Maret 2018

Allah Sangat Suka Dengan Hamba yang Bertaubat








Pernahkah kalian merasa, pandai mengoreksi kesalahan orang lain, tapi lupa dengan kesalahan sendiri? Saat ramai berlaku paling sholeh, saat sendiri bermaksiat tiada takut. Pagi ingat, petang lupa. Siang taubat, malam mengulangi. Di mata orang terlihat taat, di mata diri sendiri begitu diharumi nafsu. 


Itukah aku, Ya Allah? Apakah aku masih pantas disebut sebagai hamba-Mu? Aku ingin kau ampuni, Ya Allah. Aku merasa hampa. Aku ingin kau tiupkan ketenangan-Mu ke dada ini dan kau hapus segala debu yang mengotori. Aku ingin mencintaimu, tapi bagaimanakah caranya? 

INGAT! Allah sangat suka pada hamba-Nya yang bertaubat. Sampai-sampai Allah lebih bergembira dibanding seseorang yang kehilangan hewan tunggangannya yang membawa bekalnya, lalu hewan tersebut tiba-tiba datang lagi kembali. 

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al Anshori, pembatu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ

Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747). 
                                                                                         
Beberapa faedah dari hadits di atas:
  1. Allah begitu menyayangi hamba yang bertaubat.
  2. Hadits ini memotivasi kita untuk banyak bertaubat pada Allah.
  3. Sesuatu yang keliru yang dilakukan tidak disengaja tidaklah terkena hukuman. Seperti jika seseorang keliru mengatakan, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ini adalah kalimat kufur namun diucapkan dalam keadaan keliru, tidak disengaja.
  4. Hendaklah kita mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu menjelaskan sesuatu dengan contoh untuk semakin memperjelas sesuatu.
  5. Pasrah pada ketentuan Allah mendatangkan kebaikan dan keberkahan. Karena laki-laki yang dikisahkan dalam hadits di atas telah berputus asa dari hilangnya hewan tunggangannya, lantas Allah pun mengembalikan hewan tunggangannya.
  6. Bolehnya bersumpah untuk menguatkan perkataan pada suatu hal yang ada maslahat.
  7. Allah memiliki sifat (farh) yaitu bergembira yang sesuai dengan keagungan Allah Ta’ala.
  8. Hadits ini menunjukkan dorongan untuk mengintrospeksi diri.
 Selain itu, Allah ta’ala berfirman :

          “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang membersihkan diri “ (Surah al-Baqarah : 222). 
          At-Tawwabun/orang-orang yang bertaubat : Adalah mereka yang apabila melakukan kesalahatan atau perbuatan keji ataukah mendhzalimi diri mereka sendiri mereka akan bersegera ingat kepada Allah, menyesali perbuatannya, bertaubat, beriman dan segera kembali kepada Allah, meminta ampunan akan segala dosa-dosa mereka dan tidak melanjutkan perbuatan maksiat yang telah mereka lakukan dan menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut, dan mereka telah memantapkan hati untuk tidak kembali pada kemaksiatan itu selamanya, dan menyertakan bersama dengan taubat mereka amal-amal yang shalih, dan sekiranya dosa itu terjadi berulang kali pada diri mereka merekapun bertaubat dari dosa tersebut, dan barangsiapa yang bertaubat niscaya Allah akan menerima taubatnya. Dan seorang yang bertaubat dari sebuah dosa bagaikan seseorang yang tidak berbuat dosa. 
          Al-Mutathahhirun/orang-orang yang membersihkan diri : adalah orang-orang yang mensucikan diri mereka dari segala macam kotoran dan penyakit. Mereka yang memisahkan diri – tidak berhubungan – dengan wanita-wanita mereka disaat wanita-wanita –istri – mereka sedang haidh, dan juga tidak mendatangi istri mereka dibagian duburnya. Dan mereka bersuci dengan mempergunakan air disaat mereka junub atau berhadas. Dan mereka senantiasa giat menjaga kebersihan dikarenakan kebersihan adalah bagian dari keimanan. 
          “ Dan Allah mencintai orang-orang yang mebersihkan diri  “ (Surah at-Taubah : 108). 
          Allah ‘azza wajalla, Dialah yang memerintahkan untuk bertaubat, dan Dia juga mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri. Dan mereka adalah orang-orang yang kembali kepada-Nya dan membersihkan diri dari segala macam kotoran – hati – mereka dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Apabila mereka mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan yang dicintai-Nya, niscaya Allah akan mencintai mereka. Dan apabila Allah telah mencintai mereka, Allah akan merasa cemburu kepada mereka jiakalau ada seseorang yang menampak-nampakkan kekurangan atau kesalahan pada diri mereka, dan Allah akan akan mengenakan mereka tirai penutup-Nya yang maha besar. Dan apabila Allah telah menerima taubat seorang hamba, Allah akan menjadikan semua makhluk lupa akan dosa hamba tersebut, dan Allah akan mengenakan kepada hamba tersebut tirai kewibawaan agar yang memandang kepadanya melihatnya dengan pandangan pemuliaan bukan penghinaan. Dan itu disebabkan seorang mukmin telah mengenakan pakaian taqwa dan pakaian inilah pelindungnya, dan mukmin tersebut dengan pakaian taqwa ini dihadapan seluruh manusia akan  dimuliakan dan disegani. Ketaqwaan mukmin tersebut tidak akan nampak oleh kasat mata, melainkan yang dapat terlihat hanyalah keindahan pakaian itu dan kilau cahayanya. Dan apabila mukmin itu berbuat dosa, maka pakaian itu akan ternoda dan kemuliaannya akan sirna, dan apabila dia bertaubat, Allah akan memerintahkan penjagaan dirinya dan anggota tubuhnya, dan itu dimaksudkan agar kewibawaan dan kemuliaan hamba tersebut kembali lagi padanya. (Faidh al-Qadir karya al-Manawi 1 / 313).





Sumber : 
https://kautsarku.wordpress.com
            

Minggu, 11 Februari 2018

Bye-bye Valentine!








Hei, tanggal 14 sebentar lagi lohh. Seluruh remaja di dunia lagi siap-siap ‘mau ngapain ya?’ di hari yang katanya penuh dengan kasih sayang. Kasih apa ya, ke yayang gue? Coklat? Kado? Kartu ucapan yang ada cupido unyu itu? Mawar? Alat mandi? Kasur? TV? Mesin cuci? Ah, yang penting warnanya pink!

Ups, ada apa dengan tanggal 14? Wah… wah… kenapa pada ribut ngebahas mau pada ngapain tanggal 14 nanti? Ada yang spesial?

Ternyata ada hajatan besar-besaran sodara-sodara! Dan hajatan ini disebut dengan Valentine’s Day, hari cinta dan kasih sayang (katanya sih!). Asyik, kalau udah ngebahas yang namanya ‘cinta’ dan ‘kasih sayang’ nih, kayaknya remaja-remaja pasti langsung pada melek plus membuka kuping lebar-lebar. Lalu, memangnya ada apa dengan hajatan yang namanya Valentine’s Day ini? Ramean mana sama hajatan di rumah Pak RT minggu lalu?

Nggak usah pura-pura deh, ane tahu kalian para remaja pasti tahu apa itu Valentine’s Day. Valentine’s Day dimaknai dengan kasih sayang atau hari di mana pasangan kekasih, muda-mudi Barat, yang lagi jatuh cinta ngungkapin rasa kasih sayang mereka kepada pasangan masing-masing. Umumnya diekspresikan dengan saling tukar kado, cokelat, dan bunga mawar. Bahkan, yang paling populer, dengan bertukar kartu valentine berbentuk hati (love), yang dihiasi sebuah gambar “Copidu” (si bayi kecil bersayap dengan busur lengkap dan anak panah di tangan).

Bro en Sis rahimakumullah, ternyata perayaannya nggak cukup sampai di situ. Perayaan aneh bin gajebo ini sering diperingati dengan minum-minum dan seks bebas. Waduh, ini emang udah nggak bener sama sekali!

Herannya, perayaan aneh ini ternyata masih digemari dan bahkan terus dirayakan oleh remaja muslim di seluruh dunia! Tak terkecuali di Indonesia. Kita bisa lihat, setiap tahunnya di tanggal 14 Februari pasti para remaja pada sibuk ngoceh nggak ada habisnya tentang Valentine’s Day. Dan nggak pandang-pandang, para remaja yang merayakannya pun remaja hampir dari semua kalangan, dan yang dipandang memprihatinkan di sini adalah masih banyak sekali remaja yang merayakan hari Valentine ini di tanah air, yang tentunya mereka mayoritas muslim!

Hari Valentine di tanah air seolah sudah menjadi ‘hajatan’ perayaan cinta di antara mereka. Kondisinya pun tak kalah parah, yakni dirayakan dengan seks bebas. Pengungkapan cinta yang ‘lebih’. Ingin sesuatu yang berbeda setelah sekian tahun berpacaran.


Hari Valentine itu…

Bro en Sis rahimakumullah. Siapapun yang merayakan hari Valentine ini bisa kita sepakati bersama bahwa mereka adalah remaja bodoh. Sudah jelas sekali hari Valentine ini tidak ada dalam ajaran agama mana pun, terutama dalam ajaran Islam dimana ajarannya sangat melarang keras pelaksanaan amal-amal yang tidak berasal dari Allah Swt. dan Rasulullah saw.

“Tapi kan, ini hanya sebagai perayaan budaya? Nggak papa dong kita rayakan!” di antara kamu ada yang nyela kayak gitu.

Hei, budaya mana dulu, Bro! Itu budaya Barat, dan kalau kamu ngajak ngomongin budaya, bahkan hari Valentine sama sekali nggak cocok sama budaya dan ajaran Islam yang menjunjung tinggi kesopanan dan kehormatan orang lain. Kena deh, lo!

Tapi, kenapa masih banyak remaja yang masih merayakan hari Valentine ini ya? Nah, ini dia yang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kita, remaja muslim yang tidak ingin merayakannya. Namun faktanya banyak sekali teman-teman kita yang masih merayakannya. Banyak remaja yang menggandrungi perayaan gajebo ini. Alasannya pun banyak. Ada yang ingin dibilang gaul, ada yang bilang kalau Valentine itu keren dan harus dirayain, bahkan ada yang cuma sekadar ikut-ikutan!

Hal ini sungguh sangat miris mengingat bahwa hukum merayakan Valentine’s Day menurut Islam adalah haram. Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang artinya, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.

Disadari atau nggak, ketika kita meminta orang jadi “to be my Valentine”, berarti sama aja kita meminta orang jadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.

Weleh-weleh… jelas banget ini momen perusakan akidah gede-gedean, Men! Nggak bisa disepelekan sebagai masalah yang sekecil semut di ujung laut, karena masalah ini lebih gede dari gajah (yang udah nginjek idung!).

Sobat muda muslim, Valentine’s Day memiliki perbedaan bentuk perayaan di setiap masanya. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadiin bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana aja seperti pesta, kencan, tukeran mesin cuci, eh maksudnya hadiah, hingga penghalalan praktek zina secara legal! Bisa disimpulkan deh kalau semangat merayakan hari Valentine itu tidak lebih dari semangat berzina. Parahnya lagi, semua itu dilakuin dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih. Hoeeekk!


There is no love in Valentine!

Dalam Islam nggak ada Valentine, karena istilah asing itu sendiri merupakan impor dari agama atau kepercayaan lain yang kebetulan juga ngimpor dari kebudayaan gajebo. Sejarah dan esensinya aja kagak sejalan sama pemikiran dan akidah Islam. Lalu ngapain juga kita rayakan, apalagi pertahankan?

Menurut mereka yang semangat merayakan Valentine’s Day nih, ada semacam kepercayaan kalau melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan sampai seks bebas di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya sih, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu setan biasa. Capek deeeh!

Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang Barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sekadar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan seks, kalo belum nikah ya seks bebas alias zina.

Allah Swt. befirman (yang artinya): “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Israa’ [17]: 32)

Jangan samakan cinta dengan seks bro, nggak perlu disamakan dan dihubung-hubungin. Logikanya sederhana aja. Kalau kita punya orangtua yang sangat kita cintai, tetangga yang baik hati, hewan peliharaan yang unyu-unyu, gadget yang super canggih, sahabat-sahabat yang gokil nggak ketulungan, paman bibi yang perhatian dan baik hati, dan kita mencintai mereka semua, apakah kita juga harus berhubungan seks dengan mereka?

Herannya lagi nih, hari Valentine’ Day (a.k.a hari cinta dan kasih sayang) itu kan dirayakan tiap tahun hampir di seluruh negara di dunia, namun mengapa masih ada negara yang masih tertindas oleh penjajahan dari negara lain? Mana itu yang namanya ‘cinta’ dan ‘kasih sayang’? *Bohong besar!

Dan kesimpulannya, yang disebut ‘cinta’ dan ‘kasih sayang’ dalam hari Valentine itu hanyalah omong kosong belaka.


Islam dan Cinta

Bro en Sis rahimakumullah. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita berteriak bersama: “Say No to Valentine’s Day!” melihat betapa banyak sekali kejelekan yang didapat ketimbang manfaatnya yang hampir tidak ada dari Valentine’s Day.

Sobat, kata siapa dalam Islam nggak ada yang namanya cinta dan kasih sayang? Islam sendiri adalah agama kasih sayang dan menjunjung cinta terhadap sesama. Dalam Islam, cinta sangat dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, dan suci. Islam sama sekali nggak phobi sama yang namanya cinta. Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun demikian, Islam nggak menjadikan cinta jadi komoditas yang rendah dan murahan. Cinta yang merupakan perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihanya dengan penuh gairah, lembut, dan kasih sayang.


Bye-bye Valentine

Sebagai generasi muda muslim, kita nggak cuma dituntut untuk melek teknologi dan ilmu pengetahuan, namun juga dituntut agar bisa memfiltrasi ajaran-ajaran dan pemikiran yang bukan berasal dari Islam. Bagi kalian, generasi muda muslim yang membaca tulisan ini dan dengan tegas telah menyatakan bye-bye Valentine, maka selamat! Kalian sudah memenangkan salah satu dari ribuan serangan budaya dan akidah terhadap generasi Islam.

Jangan rayakan Valentine’s Day, dan ayo rame-rame kampanyekan gerakan anti Valentine di mana pun kamu berada!

Sebagai generasi muda muslim, kita harus berusaha sekuat tenaga kita untuk mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan kita di masyarakat, dalam muamalah sehari-hari (dan lebih keren sampe level bernegara). Agar ruh ajaran Islam nggak terkontaminasi oleh budaya-budaya asing yang terbukti hanya menimbulkan keresahan dalam masyarakat muslim.

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk meninggikan kalimat Allah di medan perjuangan yang makin hari makin kompleks ini. Sesuai dengan background kita masing-masing. Tetap menjadi mukmin sejati, tetap istiqomah bersama kebenaran Islam. Semangat!













Sumber:
  • https://www.gaulislam.com/bye-bye-valentine




Pengikut