Minggu, 19 April 2020

ILT ( Islamic Leadership Training )


ILT ( Islamic Leadership Training )
Aula SMAN 1 Bontang
 "Berjalan Menuju Cahaya Sang Suri Tauladan
SABTU , 5 OKTOBER 2019






Bismillah
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh
Rohis Smansa kali ini kita sedang mengadakan acara Islamic Leadership Training (ILT).
Di kegiatan kali ini kita telah diberi ilmu tentang bagaimana cara kepemimpinan yang benar dalam berorganisasi. Di ILT ini akhwat dan Ikhwan semua hadir dengan sangat semangat juga penuh keingintahuan yang besar. Di kegiatan ini tidak hanya mendengarkan materi saja, tetapi juga kita seru-seruan bareng dengan adanya penampilan yel-yel  dan juga game secara berkelompok. Hal ini juga mengajarkan kita untuk kompak diantara anggota Rohis Smansa.

© MEDISROMANSA

Hijab Syar'i


Hijab Syar’i




Kajian Rutin Akhwat bertema 
Hijab Syar’i
 Jumat
 “ Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”  (Al-Ahzab :59).



Hijab muslimah, adalah segala hal yang menutupi hal-hal yang dituntut untuk ditutupi bagi seorang Muslimah. Jadi hijab muslimah bukan sebatas yang menutupi kepala, atau menutupi rambut, atau menutupi tubuh bagian atas saja. Namun hijab muslimah mencakup semua yang menutupi aurat, lekuk tubuh dan perhiasan wanita dari ujung rambut sampai kaki.
Hijab di Indonesia sudah menjadi lebih populer sejak dua dekade belakangan ini. Pemakai hijab di Indonesia semakin banyak dari tahun ke tahun. Dengan semakin banyaknya pemakai hijab, maka semakin banyak pula tren dalam menggunakan hijab yang kebanyakan dari hasil kreasi hijabers.
Tidak ada salahnya mengikuti gaya jilbab masa kini yang banyak kreasi cantik dan menarik, namun tidak perlu terlalu terbebani dengan perkembangan jilbab tersebut, karena akan tetap santun dan cantik dengan jilbab yang sesuai dengan syar’i dan kepribadian. Semakin sederhana dan simple akan semakin baik.
Dengan menggunakan hijab kita mendapatkan banyak manfaat, yaitu :
· Menutup Aurat
Dengan menggunakan hijab kita akan menutupi seluruh aurat yang tidak diperbolehkan dilihat orang lain kecuali oleh mahram kita. Contohnya adalah kekukan dada dan paha.

· Mencegah dari Paparan Sinar Matahari
Dengan menggunakan hijab, maka kita akan terlindungi dari masalah tersebut yang artinya tidak perlu menggunakan penutup kepala tambahan lagi.

· Mencegah Terjadinya Kanker Kulit
Perlu sahabat ketahui mengenakan pakaian ketat plus terkena sinar matahari dalam waktu lama akan mengakibatkan kulit menderita kanker milanoma. Wanita berhijab pasti memiliki pakaian yang longgar dan pasti terhindar dari bahaya ini.

· Menjaga Kesehatan Rambut
Sinar matahari, debu, polusi, dan berbagai radikal bebas yang terdapat diudara dapat mengakibatkan berbagai masalah serius untuk rambut. Sebut saja ketombe, rambut rontok, rambut bercabang, dan berbagai keluhan lain yang dapat sahabat atasi dengan menggunakan hijab. Debu dan polusi merupakan penyebab utama masalah rambut, menggunakan hijab adalah salah satu solusi praktisnya.

· Berusaha Berperilaku Lebih Baik
Menggunakan hijab tidak semata menutupi aurat, melainkan juga untuk menjaga pandangan seorang muslimah agar tetap berprilaku baik sesuai kaidah agama. Yang dimaksud menjaga pandangan disini adalah bagaimana wanita menjaga akhlaknya untuk tidak melakukan sesuatu yang di luar syariat agama Islam. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa hijab bukan jaminan dalam perilaku seseorang, namun jika seseorang telah memiliki niat berhijab, maka ia tentu akan berusaha untuk menjalani perintah agamanya.

· Mencegah Diganggu atau Digoda Oleh Laki-Laki
Percaya atau tidak ini adalah manfaat menggunakan hijab yang tidak disadari, namun survei telah menunjukkan bahwa laki-laki cenderung segan untuk menggoda perempuan yang menggunakan hijab.

Selain hijab merupakan keharusan untuk wanita muslimah dan cara hidup Islam, secara fakta ternyata hijab juga telah terbukti memberikan banyak manfaat kepada setiap pemakainya. 


© MEDISROMANSA

Sabtu, 18 April 2020

Maulid Nabi Muhammad SAW

"Maulid Nabi Muhammad SAW"
📌 Mushalla Smansa
⌚ Jumat, 8 November 2019

SMAN 1 Bontang setiap tahun selalu merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, sebagai bentuk rasa syukur dan bentuk cinta kepada Rasulullah SAW, yang merupakan utusan Allah yang dijadikan sebagai suri tauladan untuk seluruh umat manusia sejak beliau dilahirkan hingga akhir zaman kelak.





Maulid Nabi Muhammad SAW. adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Masyarakat Muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pengajian, mendengarkan ceramah tentang kisah teladan Rasullah di masjid - masjid dan lain sebagainya.

 Setidaknya ada tiga hal yang tentu terkandung dalam perayaan Maulid Nabi:
1. Pembacaan salawat pada Nabi SAW
Keutamaan membaca salawat Nabi tidak diragukan lagi. Di isi dengan sejarah nabi ketika berdakwah, cerita kelahiran beliau dan wafatnya sehingga seorang muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna yang tercermin dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW.
2. Maulid Nabi jadi sarana bersalawat
Peringatan tersebut merupakan sarana yang mendorong kita bersalawat pada beliau sehingga termasuk melakukan perintah Allah dan tentunya mendapatkan pahala.
3. Menceritakan tentang sopan santun dan tingkah laku yang terpuji Nabi Muhammad
Dengan mendenger cerita tentang sopan santun dan tingkah laku yang terpuji Nabi Muhammad membuat seorang muslim akan termotivasi untuk mengikuti perilaku Nabi SAW. Apa lagi diselingi dengan pengajian agama, membaca Alquran, bersedekah dan ritual-ritual yang mendapat legalitas syariah.
Jadi Maulid Nabi adalah hal yang baik dan mengandung banyak kegunaan dan manfaat yang akhirnya kembali pada umat itu sendiri.







© MEDISROMANSA

KEGIATAN MABIT (malam bina iman dan taqwa)


“Malam Bina Taqwa(Mabit)”
Tk Alam Baiturrahman
02 November 2019
Mabit(Malam Bina Taqwa) merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan pada malam hari. 
Secara Bahasa, Mabit berarti bermalam. Sedangkan, Dalam terminologi dakwah  mabit adalah salah satu sarana untuk melembutkan hati, membersihkan jiwa, dan membiasakan fisik untuk beribadah serta menjalin ukhuwah (kebersamaan) satu sama lain.

Mabit ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan seorang muslim.

Kegiatan Mabit atau malam bina iman dan taqwa ini dilakukan oleh Rohis smansa yang hanya diikuti  para ikhwan saja. Kegiatan tersebut dilakukan pada malam hari.Tentunya malam yang dilaksanakan saat mabit ini akan bermanfaat. Karena dalam kegiatan mabit tersebut tentunya telah melakukan banyak aktivitas yang bermanfaat. Seperti sholat berjamaah, melaksanakan sholat tahajud, Nonton bareng tentang film/kisah yang mengispirasi tentang islam dll.


Hal ini membuat semuanya bersama-sama untuk memperbaiki keimanan, dapat membuat semuanya menjadi lebih mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah.Swt, menumbuhkan musahabah, Selain itu, kegiatan ini juga dapat membuat kita berusaha untuk menjadi lebih baik lagi di hari kemudian.

@MEDIS ROMANSA


MABIT



MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa)
Mushalla SMAN 1 Bontang
⌚Sabtu, 25 Januari 2020


MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) adalah sebuah kegiatan pembinaan dan penguatan iman dan taqwa yang diadakan oleh organisasi kerohanian Islam. Sesuai dengan namanya, MABIT dilaksanakan pada malam hari, namun biasanya peserta MABIT dijadwalkan datang sebelum Shalat Maghrib. Biasanya orang awam berpikir MABIT itu semacam kegiatan menginap di suatu tempat yang kegiatannya diisi dengan mengaji bersama dan  ceramah di malam harinya, kemudian pada pagi – pagi sekali dilaksanakan Sholat Tahajjud berjamaah. Namun, sebenarnya MABIT itu tidak hanya sekedar mendengarkan ceramah dan Sholat Tahajjud bersama lohh…

Yukk kita kupas sama – sama pembahasan tentang MABIT ini…

MABIT sendiri adalah singkatan dari malam bina iman dan taqwa. Ada 2 point pembahasan penting disini. Yang pertama adalah “bina iman”, Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah "Keyakinan dalam hati, perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat". Para ulama salaf menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang". Nah, rangkaian kegiatan MABIT seperti Sholat tepat waktu dan berjamaah, Tadarus Al – Qur’an bersama, mendengarkan ceramah, hingga Sholat Tahajjud bersama merupakan kegiatan yang dapat membina keimanan seseorang, terlebih lagi jika dilakukan dengan niat yang tulus dan sepenuh hati, Inshaallah akan ada balasannya dari Allah SWT.

Kemudian yang kedua ada “bina taqwa”. Taqwa adalah istilah dalam Islam yang merujuk kepada kepercayaan akan adanya Allah, membenarkannya, dan takut akan Allah. Menurut Tafsir Ibnu Katsir, arti dasar dari "takwa" adalah menaati Allah SWT dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Senantiasa mengingat Allah SWT serta bersyukur kepada-Nya tanpa ada pengingkaran (kufr) di dalamnya. Nah, maksud dari kata “bina taqwa” dalam kegiatan MABIT disini adalah kita dapat lebih membina ketaqwaan kita  dengan cara mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam satu malam tersebut. Caranya sama seperti membina iman kita, yaitu dengan Sholat berjamaah, Sholat Tahajjud yang memiliki banyak kemuliaan, serta mendengarkan ceramah.

Jadi seperti itulah pembahasan mengenai “bina iman dan taqwa”.

Nah, kalau berbicara tentang MABIT gini, sudah pasti gak bisa lepas dari pembahasan keseruan menginap dengan peserta lainnya kan. Jadi, SMAN 1 Bontang, tepatnya pada tanggal 25 Januari kemarin telah melaksanakan MABIT. MABIT ini dikhususkan untuk para ikhwannya saja. Salah satu keseruan dari MABIT ini adalah makan malam dengan ikan bakar, tapi ikannya harus bakar sendiri. Jadi, mereka bekerja sama membagi tugas untuk menyiapkan makan malam mereka. Pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan MABIT ini adalah bekerja sama, bekerja keras, dan bersabar. Jadi tidak hanya membina iman dan taqwa saja, tetapi juga mendapatkan penglaman baru dengan beberapa orang baru.





Kesimpulannya, hikmah – hikmah yang dapat diambil dari kegiatan MABIT secara umum adalah :
·         Meningkatkan iman dan taqwa para pelajar
·         Lebih mendekatkan diri mereka kepada Allah
·         Menumbuhkan muhasabah
·         Menjadi terbiasa menjalankan shalat-shalat sunah yang biasa dilakukan Rasulullah SAW
·         Meningkatkan kualitas Ibadah dalam hal ini sholat lima waktu
·         Memahami arti penting kebesaran dan kekuasaaan Allah SWT.


Ⓒ MEDISROMANSA

Sabtu, 11 April 2020

NKKTVI


"Nanti kita kajian tentang valentine ini"

Mushalla Smansa

⌚ Sabtu, 15 Februari 2020



Dari Ibn Umar beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud, hasan)





Batasan menyerupai orang kafir ialah dalam larangan menyerupai kekhususan mereka, maka haram hukumnya menyerupai mereka, baik dilakukan tidak dengan maksud menyerupai mereka, terlebih lagi yang dilakukan karena setuju dengan perbuatan mereka walaupun tidak dalam hal yang menjadi ciri khusus mereka.

 Syariat mengatur agar kaum muslimin menyelisihi 


orang-orang kafir dalam segala sifat. Salah satu alasan mengapa islam melarang adanya hari valentine bagi umatnya karena hari tsb bukan bagian dari kaum muslimin.Terlebih lagi tidak adanya budaya tsb dalam kisah-kisah pada zaman para anbiya. 


Sabda beliau shallallaahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka”, maksudnya dalam bentuk :
  • Berpenampilan dengan pakaian mereka
  • Berperilaku seperti gaya hidup mereka
  • Beretika dengan etika mereka
  • Berjalan di atas jalan hidup dan petunjuk mereka
  • Berpakaian seperti pakaian mereka
  • Dan mengikuti sebagian perilaku mereka (yang khusus)
Ini semua termasuk perbuatan menyerupai orang kafir yang sebenar-benarnya, karena adanya kesesuaian dalam perkara fisik maupun batin, maka (siapa yang melakukan perbuatan ini) termasuk dalam golongan mereka.


 © MEDISROMANSA

Minggu, 30 Desember 2018

Sepikan Malam Tahun Baru





Tahun baru Masehi saat ini memang dirayakan secara megah dan besar-besaran yang dihiasi dengan suara terompet maupun atraksi kembang api yang cantik di seluruh dunia yang dirayakan semua orang, baik umat muslim. Namun perlu diketahui jika perayaan tersebut identik dengan hari besar yang dirayakan orang Nasrani.

Perayaan ini memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tanpa tahu kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” in Mélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400).

Fakta tersebut menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi.

Perlu diketahui, turut merayakan tahun baru sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,
من تشبه بقوم فهو منهم
Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)
Hal-hal berikut yang dapat merusak keimanan/aqidah seorang muslim jika ikut-ikutan merayakan moment tersebut:  
1.      Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan Ied Haram
Kerusakan yang pertama adalah jika seorang merayakan tahun baru berarti juga merayakan ied atau hari perayaan yang haram hukumnya. Ini bisa terjadi karena hanya ada 2 ied bagi kaum muslim yakni Idul Fitri dan juga Idul Adha.
Anas bin Malik berkata, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fitri dan Idul Adha.’”.

2.      Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh Orang Kafir

Kerusakan yang kedua adalah merayakan tahun baru berarti tasyabbuh atau meniru orang kafir. Nabi Muhammad sedari dulu sudah memperingatkan jika umat ini akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan juga Nasrani dan kaum muslim akan mengikuti mereka baik dari segi berpakaian ataupun dari segi hari raya.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“.
3.      Merekayasa Amalan Tanpa Tuntunan Malam Tahun Baru

Seperti yang kita ketahui jika perayaan tahun baru berasal dari budaya orang kafir dan menjadi tradisi. Akan tetapi, orang jahil mensyariatkan amalan tertentu untuk malam pergantian tahun tersebut. Hal terbaik yang bisa dilakukan umat muslim untuk malam tahun baru sebaiknya diisi dengan dzikir berjamaah di masjid yang lebih bermanfaat. Persyariatan tersebut sungguh aneh sebab sudah melakukan amalan tanpa diikuti dengan tuntunan dan lagi pula ini bukanlah perayaan atau ritual umat muslim.
4.      Terjerumus Pada Haram Saat Mengucapkan Selamat Tahun Baru

Tahun baru merupakan syiar orang kafir dan bukanlah menjadi syiar umat muslim sehingga tidak pantas bagi umat muslim untuk memberi selamat dalam syiar orang kafir berdasarkan dari kesepakatan para ulama.
Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.
5.      Meninggalkan Perkara Wajib

Begadang selama semalam sambil menunggu detik pergantian tahun tentunya akan membuat umat muslim meninggalkan perkara wajib yakni sholat 5 waktu seperti salat subuh. Meninggalkan sholat 5 waktu tersebut bukanlah perkara yang sepele dan bahkan para ulama menyatakan hal tersebut sebagai perkara dosa besar dalam Islam.
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”
6.      Bergadang Tanpa Hajat

Bergadang dalam Islam tanpa diikuti dengan syar’i sangat dibenci oleh Rasulullah SAW termasuk salah satunya adalah merayakan tahun baru sebab tidak memiliki manfaat sama sekali.
Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”
7.      Terjerumus Dalam Zina

Perayaan tahun baru juga tidak lepas dengan ikhtilath atau bercampurnya antara wanita dan laki laki dan juga berkholawat atau berdua duaan dan ini bisa menjerumuskan umat muslim ke dalam zina dalam Islam. Hal inilah yang akan terjadi dalam malam pergantian tahun baru padahal melakukan pandangan, bersentuhan tangan dan bahkan sampai kemaluan adalah perbuatan zina dan menjadi hal yang sangat diharamkan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.
Demikian penjelasan terkait apa saja hukum dan larangan merayakan tahun baru masehi bagi umat islam beserta alasan-alasan yang  menjelaskan mengapa hal itu dilarang. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaatJ





Senin, 24 Desember 2018

Bolehkah Mengucapkan Selamat Natal?




Ucapan Merry Christmass atau Selamat Hari Natal selalu terdengar pada hari raya keagamaan umat Kristen tiba. Natal (dari bahasa Portugis yang berarti ‘kelahiran’) adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.

Bagi penganut agama selain Islam, ucapan Selamat Hari Natal mungkin dianggap sah sebagai salah satu bentuk toleransi antar agama, bentuk rasa saling menghormati sesama warga Negara yang berbeda agama. Namun, ternyata kaidah ini tidak berlaku dalam ajaran agama Islam. Syariat Islam justru melarang umatnya untuk mengucapkan selamat natal kepada umat Kristen saat mereka merayakannya, hukumnya HARAM. Dan ada juga sebagian di antara kaum muslimin, berpendapat nyeleneh sebagaimana pendapatnya orang-orang kafir. Dengan alasan sebagai toleransi dalam beragama!? Toleransi beragama, bukanlah seperti kesabaran yang tidak ada batasnya. Namun toleransi beragama dijunjung tinggi oleh syari’at, asal di dalamnya tidak terdapat penyelisihan syari’at. Bentuk toleransi bisa juga bentuknya adalah membiarkan saja mereka berhari raya tanpa turut serta dalam acara mereka, termasuk tidak perlu ada ucapan selamat.
Alasan Terlarangnya Ucapan Selamat Natal

  • Bukanlah perayaan kaum muslimin
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa perayaan bagi kaum muslimin hanya ada 2, yaitu hari ‘Idul fitri dan hari ‘Idul Adha.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata : Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya kurban (‘Idul Adha) dan hari raya ‘Idul Fitri” (HR. Ahmad, shahih). Sebagai muslim yang ta’at, cukuplah petunjuk Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjadi sebaik-baik petunjuk.
  • Menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal
Ketika mengucapkan selamat atas sesuatu, pada hakekatnya kita memberikan suatu ucapan penghargaan. Misalnya ucapan selamat kepada teman yang telah lulus dari kuliahnya saat di wisuda. Nah, begitu juga dengan seorang yang muslim mengucapkan selamat natal kepada seorang nashrani. Seakan-akan orang yang mengucapkannya, menyematkan kalimat setuju akan kekufuran mereka. Karena mereka menganggap bahwa hari natal adalah hari kelahiran tuhan mereka, yaitu Nabi ‘Isa ‘alaihish shalatu wa sallam. Dan mereka menganggap bahwa Nabi ‘Isa adalah tuhan mereka. Bukankah hal ini adalah kekufuran yang sangat jelas dan nyata? 
Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)
  • Merupakan sikap loyal (wala) yang keliru
Loyal (wala) tidaklah sama dengan berbuat baik (ihsan). Wala memiliki arti loyal, menolong, atau memuliakan orang kita cintai, sehingga apabila kita wala terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut. Oleh karena itu, para kekasih Allah juga disebut dengan wali-wali Allah. Ketika kita mengucapkan selamat natal, hal itu dapat menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar di lisan saja. Padahal seorang muslim diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan orang kafir.
Allah Ta’ala berfirman,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Qs. Al Mumtahanah: 4)
  • Nabi melarang mendahului ucapan salam
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,                                                                        
لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ
Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Ucapan selamat natal termasuk di dalam larangan hadits ini.
  •  Menyerupai orang kafir
Tidak samar lagi, bahwa sebagian kaum muslimin turut berpartisipasi dalam perayaan natal. Lihat saja ketika di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan pusat perbelanjaan. Sebagian dari kaum muslimin ada yang berpakaian dengan pakaian khas perayaan natal. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum  muslimin untuk menyerupai kaum kafir.
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Pembicaraan Kelahiran Isa dalam Al Qur’an

Maka Maryam mengandungnya, lalu ia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.’ Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 22-25)
     Kutipan ayat di atas menunjukkan bahwa Maryam mengandung Nabi ‘Isa ‘alahis salam pada saat kurma sedang berbuah. Dan musim saat kurma berbuah adalah musim panas. Jadi selama ini natal yang diidetikkan dengan musim dingin (winter), adalah suatu hal yang keliru.

      Ketahuilah wahai akhi dan ukhti, perkara yang remeh bisa menjadi perkara yang besar jika kita tidak mengetahuinya. Mengucapkan selamat pada suatu perayaan yang bukan berasal dari Islam saja terlarang (semisal ucapan selamat ulang tahun), bagaimana lagi mengucapkan selamat kepada perayaan orang kafir? Tentu lebih-lebih lagi terlarangnya.
Meskipun ucapan selamat hanyalah sebuah ucapan yang ringan, namun menjadi masalah yang berat dalam hal aqidah. Terlebih lagi, jika ada di antara kaum muslimin yang membantu perayaan natal. Misalnya dengan membantu menyebarkan ucapan selamat hari natal, boleh jadi berupa spanduk, baliho, atau yang lebih parah lagi memakai pakaian khas acara natal (santa klaus, pent.)
Allah Ta’ala telah berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2).
SUMBER:










Pengikut